Jumat, 30 April 2010

saat kupilih ini sebagai jalanku bagian 1

Bismillahirrahmanirrahim……

ayah, seminggu berlalu semenjak obrolan serius kita,

semenjak aku meminta restu padamu tentang apa yang aku geluti saat ini, apa yang aku lakukan di sini, selain kewajibanku padamu, kuliah.

tentu kau masih ingat, dan pastinya obrolan kita akan selalu aku ingat, karena jujur, saat itu aku mengeluarkan seluruh keberanianku untuk memutuskan untuk memberita tahu engkau,

karena ku tahu, engkau pasti akan menanggapi ini semua dengan serius,

karena kutahu, ketika aku memberi kabar ini, maka aku harus benar-benar menjalankan ini semua tanpa setengah hati lagi, aku harus terjun sepenuhnya, dan ini sebagi bukti kebulatan tekadku.

ayah, tak ada sedikit pun keraguan pada diriku, tak ada. dan Insya Allah, ini semua murni pilihanku.

dan ketika suatu saat aku mendapati cobaan, mendapati jalan yang berliku, mendapati kaki ku berdarah-darah melewati semua ini, aku takkan menyesali, takkan pernah aku sesali, mungkin aku akan menangis di depanmu, tapi itu semua takkan menghentikan langkahku ayah, takkan pernah, karena ini sudah menjadi pilihanku, sudah menjadi tekadku.

ayah, kau ingat.

saat aku pertama kali memulai obrolan kita dengan pertanyaan,

“menurut ayah, dakwah itu apa???”

engkau langsung mencercaku dengan pertanyaan balik, dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan ku saat itu, dengan pernyataan-pernyataan yang memang aku tahu itu adalah murni rasa khawatir mu pada diriku, mengingat apa yang telah ter-frame di benakmu, tentang aliran-aliran, tentang perekrutan, tentang penyimpangan-penyimpangan yang akhir-akhir ini menimpa para pemuda-pemuda muslim, bahkan tentang terorisme.

tidak, ayah..ini bukan tentang itu semua, ini tentang mengajak kepada kebaikan, kepada orang lain, dan tentunya kepada diri kita sendiri.

engkau pun bertanya,

“memang itu organisasi apa?”

bukan ayah, bukan…ini bukan tentang organisasi, bukan tentang kepentingan-kepentingan, bukan tentang politik, ini tentang orang-orang yang berkumpul yang menghendaki perjalanan menuju kebahagiaan akhirat. ini tentang jalan yang dipilih oleh mereka yang berusaha melawan kecenderungan syahwat dan nafsu keduniaan. ini tentang jalan yang dipilih oleh mereka yang memahami bahwa dunia ini adalah jembatan, bukan tempat tinggal apalagi tujuan yang dikehendaki.

kemudian saat kau tanya, apa tujuanku

aku terdiam, aku tak bisa berkata banyak, karena saat itu, aku sendiri belum dapat menentukan tujuanku, belum dapat menyampaikan apa yang sebenarnya menjadi moving force untukku memilih jalan ini.

apa yang menjadi alasanku?????

tapi ayah, biar aku ceritakan

tentu ayah tahu siapa ananda ini, ayah selalu bilang, kalo aku harus lebih banyak belajar untuk lebih tegar dalam menghadapi sesuatu, lebih tenang dalam menghadapi masalah. dan aku pun menyadari itu semua sebagai kelemahanku.

apakah ayah tahu, di sini, di antara mereka, di antara saudara-saudara yang telah menempuh jalan ini, aku mengerti, dan aku belajar. kalau setiap masalah yang dihadapi bukanlah suatu halangan, melainkan suatu batu loncatan untuk menempuh tujuan yang diinginkan.

tak ada yang perlu dipersalahkan ketika ada sesuatu yang salah,

tak ada lagi putus asa setelah kegagalan, karena mereka mengajariku bahwa kegagalan bukanlah suatu hal yang mesti ditakuti.

dan perlahan sudut pandangku tentang segala hal mulai berubah, ayah, tak lagi fokus pada hasil, proseslah yang menjadi fokus utama.

bukankah bila proses yang baik tentu akan menghasilkan yang baik pula???

bukankah Allah melihat dari proses yang kita lakukan.????

dan akhirnya, dengan semua itu, mulai tertanam sedikit demi sedikit dalam diri ini, bahwa tak ada sesuatu yang datang dengan mudahnya tanpa adanya kerja keras.

dan bukankah itu yang sering ayah ajarkan padaku???

dulu memang aku tak terlalu peduli, tapi sekarang aku tahu ayah, aku tahu, dan aku akan berusaha untuk menjadi orang yang ulet dan pekerja keras.

Ayah, tentu ayah tahu, pacaran sudah menjadi hal yang biasa bagi ananda. dan ayah juga tahu, siapa dan apa saja alasan aku memilih seorang wanita untuk menjadi pacarku. karena memang aku selalu bercerita pada ayah, dan aku senang, ayah selalu mendengarkan, walau kadang engkau tertawa mendengar cerita-ceritaku tentang kisah percintaanku.

tapi tahukah ayah???

saat diri ini beranjak dewasa, saat diri ini mulai bisa berpikir lebih maju, lebih kritis, ketika hati ini kosong, hati ini sepi, hati ini galau, belaian kasih sayang dari orang yang terkasih ternyata tak bisa menyembuhkannya, tak bisa lagi hanya dengan telepon atau sms-an dengan orang yang terkasih hati ini bisa pulih kembali.

aku merasa kosong ayah, aku merasa kosong…

hati ini membutuhkan kasih sayang dari kekasih yang sejati, yang menerima aku apa adanya, yang hanya dengan mengingat saja sudah membuat hati ini tenang, apalagi dekat.

hati ini meminta lebih…

dan  yang mengenalkanku ayah, pada Dzat yang Maha Pengasih, pada Dzat yang kasih-Nya menyeluruh ke segala makhluk.

mereka mengenalkan kembali aku dengan Rabb-ku, ayah..

dengan Rabb yang harusnya menjadi tempat aku menggantungkan hatiku,

dan memang,

hanya dengan mengingat saja, hati ini telah tenang, tak ada kegundahan lagi. sekarang, aku sudah memutuskan ayah, memutuskan bahwa kepada-Nya lah akan selalu kutautkan hatiku. karena aku yakin, Dia takkan membuatku kecewa, takkan membuatku galau, yang ada adalah keinginan untuk terus dekat, keinginan untuk terus mengingat-Nya.

dan sedikit demi sediki, diri ini pun mulai mencintai dan mengerjakan apa saja yang Dia cintai. serta mulai membenci dan menjauhi apa saja yang Dia benci.

bukankah itu yang dilakukan oleh seorang kekasih, ayah????-mengerjakan apa yang kekasihnya cintai & menjauhi apa yang kekasihnya benci.

bukankah itu yang selalu engkau ajarkan kepada ananda semenjak kecil ayah, untuk selalu mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya???

dulu, aku sewenang-wenang ayah, meremehkan apa yang engkau ajarkan ini. tapi sekarang, sungguh ayah, sungguh, aku ingin berubah. akan kubingkai dan kupajang selalu semua yang engkau ajarkan di dalam benakku.

ayah mungkin ingat, pertengkaran hebat ananda dengan mama, pertengkaran yang sampai membuat mama menangis. alasannya simpel, mama cuma mengomentari tingkah lakuku, dan aku naik pitam karena hal itu. aku sangat menyesal bila ingat akan hari itu, aku sangat menyesal betapa buruknya akhlakku saat itu.

dan apakah ayah tahu,?

di sini mereka mengenalkanku pada indahnya akhlak yang dimiliki oleh manusia yang paling dicintai Rabb ku, manusia yang sama-sama mereka rindukan untuk bertemu, dan kini aku pun merindukan beliau.

mereka mengajarkanku ayah, pada sunnah-sunnah nya, sehingga hari-hariku kini terasa lebih hidup, tak lagi terasa kosong.

makan tak boleh berdiri, menjaga pandangan, menjaga lisan, dan lain-lain yang memang sudah aku ketahui dari dulu, dari buku-buku yang ada di kamarmu ayah, dan hanya sebagai pengetahuan saja, tak pernah aku laksanakan.

ahh.. bila ingat buku-buku itu, aku jadi ingat lelucon yang tak sengaja aku ucapkan saat kita berkumpul bersama,

saat si adik berkata, “kok gak ada makanan?”

dengan santainya aku menimpali, “tuh buku-buku ayah di kolak aja”

jika kuingat hal itu, aku tak bisa memprediksi apa yang ada benakmu saat itu, tapi yang jelas, itu semua bukti ketidakpedulianku.

*bersambung, Insya Alloh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

minta komentar na atuh....