sore itu mendung,
seorang pemuda berjalan gontai menuju tempat kost nya,
dia merasa kalah…
dia merasa bersalah…
“kenapa gw bisa begitu lalai..???”
“kenapa masalah tak henti-hentinya datang pada gw..???”
ratapnya…
dalam tatapan kosong, dia menyesali semua hal yang terjadi padanya, menyesali semua hal yang tidak sesuai rencana…
dia kalut, dia tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri, dia tak henti-hentinya merasa kalau itu semua salahnya, dan orang-orang terdekatnya yang akan menerima akibatnya..tergambar di wajahnya, bagaimana nanti orang tuanya kecewa..dan itu membuat perasaannya semakin terpuruk…
dia melangkah gontai,
tak tahu..harus kemana dia berpulang…..
******
dengan segala kekalutan yang ada, dia mengambil jurnal hariannya, dan mulai menulis….
kawan…hasrat untuk mengakhiri hidup kembali datang…
aku tak tahu..kenapa..kenapa hasrat itu selalu datang, saat aku tertimpa masalah yang menyangkut orang lain….
aku tak mengerti…
aku tak mengerti…apa yang harus aku lakukan….
aku merasa sendiri…
aku hanya merasa, tak ada guna aku hidup…itu saja..
aku hanya si pembuat masalah…
aku hanya…ahhh..sudahlah..
sungguh, aku katakan kawan..jika cobaan itu langsung ditujukan padaku, atau memang aku sendiri yang merasakannya, aku akan tahan…
tapi kenapa, selalu saja ada orang lain yang harus merasakan akibatnya….
aku bingung…siapa yang sebenarnya harus disalahkan…
aku tak mungkin menyalahkan orang lain,
aku tak mungkin menyalahkan sistem,
atau apa saja yang mungkin bisa aku kambinghitamkan…
dan aku tak mungkin menyalahkan Alloh atas semua ini…
hingga akhirnya, kutemukan bahwa diri inilah yang salah…diri ini yang patut disalahkan…sampai aku yakin, sampai aku percaya, bahwa kesalahan ini murni adalah kesalahanku..membuatku terus tak berhenti menyalahkan diriku..menyalahkan keberadaanku.
terpikir olehku, mungkin kalau aku tiada, mereka tak perlu merasakan akibat dari masalah yang aku timbulkan…mungkin bila aku mengakhiri hidupku, mereka bisa terhindar dari semua masalahku..mungkin jika aku mati, mereka tak perlu merasa kecewa..
mungkin…..
ahhh..sungguh..saat inipun aku tak bisa mengontrol pikiranku, hasrat itu begitu kuat..entahlah, kawan, apakah karena aku sekarang merasakan lelah atas hidup ini..???merasa lelah karena kesalahan-kesalahan yang membuatku selalu saja ditimpa masalah…aku hanya ingin hidup dengan tenang, kamu tahu itu…
jauh di lubuk hatiku, aku ingin tidur…
tidur..dan tak terbangun untuk waktu yang lama…waktu yang cukup lama hingga orang-orang menganggapku mati, bahkan aku sendiri menganggap diriku mati..
lalu timbul pertanyaan dalam benakku, bisakah aku rehat dari hidup…???
lalu apa???
lalu apa??
sekarangpun aku sadar, kawan..aku sadar…
rasa bersalahku ini mengontrol diriku, rasa bersalah ini mengendalikan pikiranku..dan kurasa hati ini dalam ‘chaos’..
aku butuh pertolongan…
aku butuh pertolongan…
tiga kata terakhir membuat pemuda itu tersadar,
“ya..gw butuh pertolongan..”pikirnya…sungguh dia sendiri kaget dengan 3 kata terakhir yang ditulisnya, yang sama sekali tak terbersit dalam pikirannya
dengan sedikit semangat, dia melangkah dari mesjid tempat dia melepaskan lelahnya…jari-jari di tangannya tak hentinya memijit-mijit keypad hape..sebuah sms telah dia buat…dan yakin kemana dia kirimkan sms itu…ke dua nomor milik ke dua orang yang dia selalu terima nasehatnya…
tak berapa lama, sms terkirim.
Asslm…kak, masalah trus2an datang, yg trkadang bikin saya benci pada diri saya terdiri, bhkn terlintas pikiran, lbih baik mengakhiri hidup, krn hanya bisa menimbulkan mslh, baik pd dri saya maupun pada orang lain..
dan kini dia harus menunggu…
***
tatapan kosong itu tertuju pada monitor, tangannya memainkan mouse, game arcade sedang dia mainkan…
namun, pikirannya tak berada disitu..dia terus memikirkan, bagaimana seharusnya..apa yang harus dia lakukan…dan bagaimana bila akan mengakhiri hidupnya..
dan menabrakkan diri ke kereta adalah pilihan terbaiknya..
pikiran itu terus membayanginya..dia sudah merasa lelah..
Teet*
sebuah sms masuk, dengan perasaan enggan dia membaca sms tersebut,
dia tersentak, dia menangis saat itu juga…
dia menangis membaca sebuah kalimat yang singkat, namun mengena…
apakah kamu mengira bhw kamu beriman?
kalimat singkat ini, membuatnya sadar, membuatnya mempertimbangkan semua hal yang telah dipikirkannya,
Astaghfirulloh…apa yang gw pikirkan??? sesalnya
dia langsung teringat semua hal yang telah dia lalui, dan tentu saja itu tak mudah…kalau dia mengakhiri hidupnya sekarang, itu semua akan menjadi sia-sia…
dia teringat tentang agenda wajibnya, tentang buku-buku yang telah dibacanya, tentang nasehat-nasehat yang pernah didengarnya..dan akan sangat percuma bila dia mengakhiri hidupnya…
dia teringat orang tuanya, orang-orang terdekatnya, tentu mereka akan lebih kecewa bila melihat dia menyerah begitu saja pada masalah yang dia hadapi, daripada yang telah dia khawatirkan di awal…
dia teringat bahwa masih banyak hal yang ingin dia lakukan, wisudanya, pernikahan kakaknya, melihat adek-adeknya beranjak dewasa, melanjutkan studi, dan semua itu tidak akan terlaksana bila dia mengakhiri hidupnya saat ini…
dan tentu saja, urusannya takkan berakhir begitu saja…dia mesti mempertanggungjawabkan segalanya pada Alloh SWT, tentang tindakan yang dia ambil..dan bila dia mengakhiri hidupnya, dia telah menghilangkan keimanan dalam dirinya, telah menjadi golongan ahli neraka, lalu bagaimana dengan istana yang dia ingin berikan untuk orang tuanya di surga kelak????
Ya Alloh, hamba mohon ampun…hamba mohon ampun karena telah berputus asa…
dia masih menangis, dan menangis……
Epilog
kawanku….aku telah salah…aku telah berbuat ingkar..aku telah berbuat dzalim..pikiran-pikiran itu tidak sepantasnya ada di benakku…
bukankah aku yang selalu bangga dengan kemuslimanku???
lalu mengapa pikiran itu ada di benakku???
aku harusnya sadar dari awal, bahwa ini murni ujian dari Alloh, dan bisa jadi ini adalah teguran dari-Nya..bila mengingat akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan duniaku, sibuk dengan diriku sendiri…
aku harusnya mengerti bahwa setiap ujian pasti ada jalan keluarnya, bukankah Alloh menjanjikan dalam ayat-Nya bahwa Dia takkan memberikan ujian melebihi kemampuan umat-Nya…
aku harusnya sadar, seperti yang dikatakan padaku, bahwa Alloh menguji kita untuk mengetahui seberapa besar keimanan kita..seberapa tegar kita…dan akhirnya, bila kita lulus ujian tersebut, kita telah naik tingkat..tentu saja…
Aku harusnya sadar, ujian yang datang tidak boleh membuatku kehilangan hatiku, walau dalam keadaan yang paling berat sekalipun. apapun cobaan yang aku hadapi adalah bagian dari rangkaian kemuliaan yang dipersiapkan-Nya untukku.
Aku harusnya tak berputus asa, tidak lemah hati. Karena Allloh selalu bersama orang-orang yang sabar..
sungguh, pikiranku sangat kerdil..
kawanku, mungkin ini bisa menjadi gambaran bagiku sendiri…ternyata, masih banyak yang harus aku perbaiki..masih banyak yang aku harus dalami..aku harus banyak berpikir positif, hingga pikiran-pikiran kerdil seperti itu tak lagi menghantuiku..
cukuplah hari ini menjadi pelajaran untukku..
dan aku yakinkan padamu, kawan, takkan ada lagi hari seperti ini…
aku akan menjadi kuat, dan tegar bagai karang…
aku akan belajar sabar, ikhlas, dan terus berpikir positif..
aku akan mendekatkan diriku lagi pada Sang Pencipta..
amin…
pemuda itu menutup jurnalnya dengan perasaan yang berbeda..dia telah tersenyum lagi..jam menunjukkan pukul 03.11 saat itu..dia pun bergegas membasuh dirinya dengan wudhu..dalam hati dia bersyukur, Alloh telah memberikan pertolongan padanya melalui dua orang yang luar biasa…..
*selesai