Rabu, 02 Juni 2010

tentang ujian..

sore itu mendung,

seorang pemuda berjalan gontai menuju tempat kost nya,

dia merasa kalah…

dia merasa bersalah…

“kenapa gw bisa begitu lalai..???”

“kenapa masalah tak henti-hentinya datang pada gw..???”

ratapnya…

dalam tatapan kosong, dia menyesali semua hal yang terjadi padanya, menyesali semua hal yang tidak sesuai rencana…

dia kalut, dia tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri, dia tak henti-hentinya merasa kalau itu semua salahnya, dan orang-orang terdekatnya yang akan menerima akibatnya..tergambar di wajahnya, bagaimana nanti orang tuanya kecewa..dan itu membuat perasaannya semakin terpuruk…

dia melangkah gontai,

tak tahu..harus kemana dia berpulang…..

 

******

dengan segala kekalutan yang ada, dia mengambil jurnal hariannya, dan mulai menulis….

kawan…hasrat untuk mengakhiri hidup kembali datang…

aku tak tahu..kenapa..kenapa hasrat itu selalu datang, saat aku tertimpa masalah yang menyangkut orang lain….

aku tak mengerti…

aku tak mengerti…apa yang harus aku lakukan….

aku merasa sendiri…

aku hanya merasa, tak ada guna aku hidup…itu saja..

aku hanya si pembuat masalah…

aku hanya…ahhh..sudahlah..

sungguh, aku katakan kawan..jika cobaan itu langsung ditujukan padaku, atau memang aku sendiri yang merasakannya, aku akan tahan…

tapi kenapa, selalu saja ada orang lain yang harus merasakan akibatnya….

aku bingung…siapa yang sebenarnya harus disalahkan…

aku tak mungkin menyalahkan orang lain,

aku tak mungkin menyalahkan sistem,

atau apa saja yang mungkin bisa aku kambinghitamkan…

dan aku tak mungkin menyalahkan Alloh atas semua ini…

hingga akhirnya, kutemukan bahwa diri inilah yang salah…diri ini yang patut disalahkan…sampai aku yakin, sampai aku percaya, bahwa kesalahan ini murni adalah kesalahanku..membuatku terus tak berhenti menyalahkan diriku..menyalahkan keberadaanku.

terpikir olehku, mungkin kalau aku tiada, mereka tak perlu merasakan akibat dari masalah yang aku timbulkan…mungkin bila aku mengakhiri hidupku, mereka bisa terhindar dari semua masalahku..mungkin jika aku mati, mereka tak perlu merasa kecewa..

mungkin…..

ahhh..sungguh..saat inipun aku tak bisa mengontrol pikiranku, hasrat itu begitu kuat..entahlah, kawan, apakah karena aku sekarang merasakan lelah atas hidup ini..???merasa lelah karena kesalahan-kesalahan yang membuatku selalu saja ditimpa masalah…aku hanya ingin hidup dengan tenang, kamu tahu itu…

jauh di lubuk hatiku, aku ingin tidur…

tidur..dan tak terbangun untuk waktu yang lama…waktu yang cukup lama hingga orang-orang menganggapku mati, bahkan aku sendiri menganggap diriku mati..

lalu timbul pertanyaan dalam benakku, bisakah aku rehat dari hidup…???

lalu apa???

lalu apa??

sekarangpun aku sadar, kawan..aku sadar…

rasa bersalahku ini mengontrol diriku, rasa bersalah ini mengendalikan pikiranku..dan kurasa hati ini dalam ‘chaos’..

aku butuh pertolongan…

aku butuh pertolongan…

tiga kata terakhir membuat pemuda itu tersadar,

“ya..gw butuh pertolongan..”pikirnya…sungguh dia sendiri kaget dengan 3 kata terakhir yang ditulisnya, yang sama sekali tak terbersit dalam pikirannya

dengan sedikit semangat, dia melangkah dari mesjid tempat dia melepaskan lelahnya…jari-jari di tangannya tak hentinya memijit-mijit keypad hape..sebuah sms telah dia buat…dan yakin kemana dia kirimkan sms itu…ke dua nomor milik ke dua orang yang dia selalu terima nasehatnya…

 

tak berapa lama, sms terkirim.

Asslm…kak, masalah trus2an datang, yg trkadang bikin saya benci pada diri saya terdiri, bhkn terlintas pikiran, lbih baik mengakhiri hidup, krn hanya bisa menimbulkan mslh, baik pd dri saya maupun pada orang lain..

dan kini dia harus menunggu…

***

tatapan kosong itu tertuju pada monitor, tangannya memainkan mouse, game arcade sedang dia mainkan…

namun, pikirannya tak berada disitu..dia terus memikirkan, bagaimana seharusnya..apa yang harus dia lakukan…dan bagaimana bila akan mengakhiri hidupnya..

dan menabrakkan diri ke kereta adalah pilihan terbaiknya..

pikiran itu terus membayanginya..dia sudah merasa lelah..

Teet*

sebuah sms masuk, dengan perasaan enggan dia membaca sms tersebut,

dia tersentak, dia menangis saat itu juga…

dia menangis membaca sebuah kalimat yang singkat, namun mengena…

apakah kamu mengira bhw kamu beriman?

kalimat singkat ini, membuatnya sadar, membuatnya mempertimbangkan semua hal yang telah dipikirkannya,

Astaghfirulloh…apa yang gw pikirkan??? sesalnya

dia langsung teringat semua hal yang telah dia lalui, dan tentu saja itu tak mudah…kalau dia mengakhiri hidupnya sekarang, itu semua akan menjadi sia-sia…

dia teringat tentang agenda wajibnya, tentang buku-buku yang telah dibacanya, tentang nasehat-nasehat yang pernah didengarnya..dan akan sangat percuma bila dia mengakhiri hidupnya…

dia teringat orang tuanya, orang-orang terdekatnya, tentu mereka akan lebih kecewa bila melihat dia menyerah begitu saja pada masalah yang dia hadapi, daripada yang telah dia khawatirkan di awal…

dia teringat bahwa masih banyak hal yang ingin dia lakukan, wisudanya, pernikahan kakaknya, melihat adek-adeknya beranjak dewasa, melanjutkan studi, dan semua itu tidak akan terlaksana bila dia mengakhiri hidupnya saat ini…

dan tentu saja, urusannya takkan berakhir begitu saja…dia mesti mempertanggungjawabkan segalanya pada Alloh SWT, tentang tindakan yang dia ambil..dan bila dia mengakhiri hidupnya, dia telah menghilangkan keimanan dalam dirinya, telah menjadi golongan ahli neraka, lalu bagaimana dengan istana yang dia ingin berikan untuk orang tuanya di surga kelak????

Ya Alloh, hamba mohon ampun…hamba mohon ampun karena telah berputus asa…

dia masih menangis, dan menangis……

Epilog

kawanku….aku telah salah…aku telah berbuat ingkar..aku telah berbuat dzalim..pikiran-pikiran itu tidak sepantasnya ada di benakku…

bukankah aku yang selalu bangga dengan kemuslimanku???

lalu mengapa pikiran itu ada di benakku???

aku harusnya sadar dari awal, bahwa ini murni ujian dari Alloh, dan bisa jadi ini adalah teguran dari-Nya..bila mengingat akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan duniaku, sibuk dengan diriku sendiri…

aku harusnya mengerti bahwa setiap ujian pasti ada jalan keluarnya, bukankah Alloh menjanjikan dalam ayat-Nya bahwa Dia takkan memberikan ujian melebihi kemampuan umat-Nya…

aku harusnya sadar, seperti yang dikatakan padaku, bahwa Alloh menguji kita untuk mengetahui seberapa besar keimanan kita..seberapa tegar kita…dan akhirnya, bila kita lulus ujian tersebut, kita telah naik tingkat..tentu saja…

Aku harusnya sadar, ujian yang datang tidak boleh membuatku kehilangan hatiku, walau dalam keadaan yang paling berat sekalipun. apapun cobaan yang aku hadapi adalah bagian dari rangkaian kemuliaan yang dipersiapkan-Nya untukku.

Aku harusnya tak berputus asa, tidak lemah hati. Karena Allloh selalu bersama orang-orang yang sabar..

sungguh, pikiranku sangat kerdil..

kawanku, mungkin ini bisa menjadi gambaran bagiku sendiri…ternyata, masih banyak yang harus aku perbaiki..masih banyak yang aku harus dalami..aku harus banyak berpikir positif, hingga pikiran-pikiran kerdil seperti itu tak lagi menghantuiku..

cukuplah hari ini menjadi pelajaran untukku..

dan aku yakinkan padamu, kawan, takkan ada lagi hari seperti ini…

aku akan menjadi kuat, dan tegar bagai karang…

aku akan belajar sabar, ikhlas, dan terus berpikir positif..

aku akan mendekatkan diriku lagi pada Sang Pencipta..

amin…

pemuda itu menutup jurnalnya dengan perasaan yang berbeda..dia telah tersenyum lagi..jam menunjukkan pukul 03.11 saat itu..dia pun bergegas membasuh dirinya dengan wudhu..dalam hati dia bersyukur, Alloh telah memberikan pertolongan padanya melalui dua orang yang luar biasa…..

 

*selesai

Sabtu, 29 Mei 2010

tentang penampilan…

kemarin, jalan bareng mahfud, niat cari buku..dan akhirnya gw maen ke Simpur center –detailnya menyusul.

tipikal mall pada umumnya, rame..!!!

dan ada yang gw taksir, dvd game the sims 3…

anjrit..

mau beli juga sayang, pasti gak kepake. requirements-nya gak sesuai ma si netbook-baik-temen-opang..haduh..gigit jari aja dah akhirnya..

eh iya, di mall, seperti biasanya, banyak muda-mudi yang berpasangan, yang sendirian, dan ada pula yang ganda campuran—badminton kali ya..hehehehehe

dan dandanan mereka..hhhmmm…remaja-remaja sinetron. bahkan gak sedikit ibu-ibu yang bergaya ala anak gaul sinetron…

iseng banget ya gw, ngomentarin gaya berpakaian mereka…

bukan begitu, ngelihat itu semua, gw jadi ngerasa, ada beberapa hal yang mesti gw sampaikan…

 

my brother and I…

kalau gw, dulu, dari kecil, baju gw selalu dikembarin ma si japong…

apa-apa sama; baju, celana, sandal,

ayah gw sih yang punya inisiatif kayak gitu,

‘biar gak iri’, kata beliau…

tapi kalau dipikir-pikir sekarang, kayaknya ayah gw itu penganut paham behavioristik sejati..

keseragaman adalah nomor satu..

kalau memungkinkan, mungkin beliau juga bakal bikin baju seragam buat ketujuh anaknya..hehehehehe..

baju kembaran itu terus berlangsung sampai gw masuk SMA. Sampai gw punya inisiatif untuk membeli baju sendiri, –duit tetep dari beliau..adek gw pun sama..

cuma mungkin karena adek gw maennya ma supir angkot, pengamen, dan lain-lain..jadilah adek gw penganut paham “celana potlot adalah simbol kekerenan”.

bukan maksud gw menjustifikasi, tapi memang kenyataan yang ada di labuan adalah, model pakaian seperti itu lagi ‘In’;celana potlot, CD keliatan, gaya rambut emo..termasuk temen-temen adek gw yang ngefans berat ma cara pakaian seperti itu. gw kadang ngetawain kalau udah ngeliat dia mencoba-dengan-susah-payah memakai celana potlotnya..hehehehe..

hmmm..tapi gw bangga dengan adek gw ini, temannya dari kalangan mana pun. Ini bukan berarti gw pilih-pilih teman, tapi gw ma adek gw berbeda. gw tipe orang yang membosankan, yang lebih senang berada di rumah, nonton TV, baca komik, atau latihan-latihan soal, dibanding maen keluar..kecuali ada yang ngajakin, kalau nggak mah, mana mau gw keluyuran.

sementara adek gw seneng bener kalau udah maen ma temen-temennya, dan yang bikin gw bangga, dia gak pernah ikut-ikut hal-hal yang gak beres—minum, tawuran, dll, walau temen-temennya gitu semua. ya cuma yang gw sayangkan mungkin, dia meniru cara berpakaian mereka.

dan adek gw pun gak segan kalau diajakin ngamen bareng. sempat waktu itu kepergok ma A’ye—kakak gw yang kedua, lagi ngamen bareng temen-temennya. jadi saat itu, A’ye lagi beli nasi goreng, datanglah sekelompok pengamen, pas A’ye mau ngasih recehan, eh ternyata adeknya sendiri yang ngamen..selanjutnya,

A’ye murka, japong nyengir kuda…

makanya, kalo ada yang ngamen, gw suka pengen ketawa, inget si japong…

balik lagi ke cara berpakaian..

lalu gimana dengan gw…???

hmm..sampai tengah semester lalu, gw masih berpakaian semau-mau..gak jelas, gak punya ciri khas…tapi akhirnya gw sadar, harus ada yang berubah, masa calon guru berpakaiannya acak-acakan..makanya gw mulai belajar untuk selalu berpakaian rapih setiap saat, walau sempat membuat kaget temen-temen di kampus..;)

 

bukan sekedar pantas dan tak pantas

sebenarnya cara berpakaian itu bukan sekedar pantas dan tak pantas, karena kalau kita berpatokan pada hal itu, tentu kan berubah tipa masa, bahkan tiap tempat memiliki kepantasan sendiri.

misalnya, mungkin dulu kita menganggap putri menggunakan celana pendek ke pasar adalah suatu hal yang tak pantas. lalu bagaimana dengan sekarang,??? jujur, gw sempat kaget waktu pulang kampung ramadhan lalu, saat ngabuburit, liat putri-putri gak segan menggunakan ‘hot pant’ di pasar..

bener-bener…suatu, ahhh..kemorosotan moral…padahal, gw tahu banget labuan dulunya gimana…

lalu bagaimana dengan puteranya,

pernah dosen gw bilang, “sekarang tuh susah membedakan antara pria dan wanita, karena pria sekarang senang betul memakai pakaian serba ngetat, sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya, sehingga saat berjalan, keliatan betul kayak wanita”

itulah..itulah….kalau kita menjadikan ‘pantas dan tak pantas’ menjadi patokan..tak ada suatu konsistensi..apalagi dengan maraknya sinetron-sinetron remaja, yang menurut gw mencuci otak para remaja indonesia untuk menggunakan pakaian yang sama seperti mereka..

lalu bagaimana seharusnya,???

saya takkan memberikan penjelasan yang panjang lebar untuk putri..silakan baca An-Nuur : 31,

dan untuk pria, ingat, pusar sampe lutut, tapi gak pake ngetat-ngetat.

jaman sekolah dulu, gw selau salah kalau ngisi pertanyaan

‘dimana batas aurat pria??’

gw jawab, dari pusar sampe mata kaki..hee…

 

jangan sepenuhnya salahkan kami, para pria, jika….

bagaimana kondisi kampus saat ini,

kondusif..????

untuk FKIP sendiri sudah mempunyai peraturan, ‘no jeans arround’..

tapi gw pernah dengar seorang putri curhat,

“kenapa sih kitaorang dilarang pake jeans, sedangkan yang pake rok-rok pendek berkeliaran, aman-aman aja..gak adil tuh”

waktu itu gw hanya diam mendengar cerita tersebut..

tapi gw mau berbagi pengalaman nih terkait itu..

dulu, gw maen ke Time Zone, biasalah anak muda…waktu itu gw liat seorang pemuda, anteng banget berdiri di pinggir tangga, gak ngapa-ngapain, senyum-senyum sendiri..kok kayak orang gila..sampe akhirnya gw deketin tuh orang, eh gak taunya..bener-bener edan, dia sengaja berdiri di pinggir tangga, supaya bisa ngintip putri ber-rok pendek yang naek-turun tangga, jelas tahulah apa yang pemuda itu intip…

lain lagi ceritanya, jujur gw risih kalau naik angkot, duduk tepat di belakang supir—atau tepat di depan pintu. apa sebab?? karena biasanya, kalau ada putri yang turun, pake pakaian pendek, jelas bagian belakangnya tersingkap saat hendak keluar, dan anehnya, putri tersebut biasanya berusaha keras narik-narik baju bagian belakangnya biar gak keliatan..dalam hati gw, “kalau gak mau keliatan, ngapain pake baju pendek-pendek mba”..ironis kan..????

nah, kalo udah kayak gini, gak heran kalau beberapa tahun terakhir kasus pemerkosaan, hamil di luar nikah, terus meningkat..ya karena para putri itu sendiri tidak menjaga, lalu apakah kesalahan sepenuhnya dilimpahkan pada para pria, yang sudah jelas isi kepalanya berbeda dengan para putri..

 

kesimpulannya…

bukan maksud gw menjustifikasi…

sekedar mengingatan….memang, orang-orang akan menatakan kita kolot, kita ketinggalan jaman..

tapi jujur, gw katakan, gw bangga menjadi seorang muslim, lalu, bagaimana dengan anda?????

semoga bermanfaat…

 

*umam

Kamis, 27 Mei 2010

tentang sahabat

di dalam ruang ini…

aku termenung, aku gelisah…

betapa hidup menuntut aku, betapa hidup memintaku lebih…

dan aku selalu saja merasa semua yang aku lakukan adalah kesalahan..

aku tak pernah berhenti,

aku bahkan tak mau berhenti,

menyalahkan diri sendiri…..

 

di dalam ruang ini…

aku menangis, aku menangis…

betapa aku merasa seorang diri, dan kau tahu, sendiri itu menyesakkan hati…

dan aku selalu merasa bahwa tak ada yang mau menerimaku…

aku tertolak,

aku bahkan hanya bisa menangis,

menangisi ketertolakkanku…

 

di dalam ruang ini..

aku merindu, merindu kalian….

betapa semua yang telah kita lalui bersama adalah hal yang tak bisa terhapus begitu saja..

dan tentu saja tak pernah ada keinginan untuk itu…

aku merindu,

aku bahkan merasa ada sesuatu yang kosong,

bila teringat bahwa kalian jauh di sana…

 

ya, di dalam ruang ini..

saat aku mulai menyalahkan diri sendiri,

saat aku merasa seorang diri,

saat itu pula aku merindu kalian….

Jumat, 30 April 2010

saat kupilih ini sebagai jalanku bagian 1

Bismillahirrahmanirrahim……

ayah, seminggu berlalu semenjak obrolan serius kita,

semenjak aku meminta restu padamu tentang apa yang aku geluti saat ini, apa yang aku lakukan di sini, selain kewajibanku padamu, kuliah.

tentu kau masih ingat, dan pastinya obrolan kita akan selalu aku ingat, karena jujur, saat itu aku mengeluarkan seluruh keberanianku untuk memutuskan untuk memberita tahu engkau,

karena ku tahu, engkau pasti akan menanggapi ini semua dengan serius,

karena kutahu, ketika aku memberi kabar ini, maka aku harus benar-benar menjalankan ini semua tanpa setengah hati lagi, aku harus terjun sepenuhnya, dan ini sebagi bukti kebulatan tekadku.

ayah, tak ada sedikit pun keraguan pada diriku, tak ada. dan Insya Allah, ini semua murni pilihanku.

dan ketika suatu saat aku mendapati cobaan, mendapati jalan yang berliku, mendapati kaki ku berdarah-darah melewati semua ini, aku takkan menyesali, takkan pernah aku sesali, mungkin aku akan menangis di depanmu, tapi itu semua takkan menghentikan langkahku ayah, takkan pernah, karena ini sudah menjadi pilihanku, sudah menjadi tekadku.

ayah, kau ingat.

saat aku pertama kali memulai obrolan kita dengan pertanyaan,

“menurut ayah, dakwah itu apa???”

engkau langsung mencercaku dengan pertanyaan balik, dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan ku saat itu, dengan pernyataan-pernyataan yang memang aku tahu itu adalah murni rasa khawatir mu pada diriku, mengingat apa yang telah ter-frame di benakmu, tentang aliran-aliran, tentang perekrutan, tentang penyimpangan-penyimpangan yang akhir-akhir ini menimpa para pemuda-pemuda muslim, bahkan tentang terorisme.

tidak, ayah..ini bukan tentang itu semua, ini tentang mengajak kepada kebaikan, kepada orang lain, dan tentunya kepada diri kita sendiri.

engkau pun bertanya,

“memang itu organisasi apa?”

bukan ayah, bukan…ini bukan tentang organisasi, bukan tentang kepentingan-kepentingan, bukan tentang politik, ini tentang orang-orang yang berkumpul yang menghendaki perjalanan menuju kebahagiaan akhirat. ini tentang jalan yang dipilih oleh mereka yang berusaha melawan kecenderungan syahwat dan nafsu keduniaan. ini tentang jalan yang dipilih oleh mereka yang memahami bahwa dunia ini adalah jembatan, bukan tempat tinggal apalagi tujuan yang dikehendaki.

kemudian saat kau tanya, apa tujuanku

aku terdiam, aku tak bisa berkata banyak, karena saat itu, aku sendiri belum dapat menentukan tujuanku, belum dapat menyampaikan apa yang sebenarnya menjadi moving force untukku memilih jalan ini.

apa yang menjadi alasanku?????

tapi ayah, biar aku ceritakan

tentu ayah tahu siapa ananda ini, ayah selalu bilang, kalo aku harus lebih banyak belajar untuk lebih tegar dalam menghadapi sesuatu, lebih tenang dalam menghadapi masalah. dan aku pun menyadari itu semua sebagai kelemahanku.

apakah ayah tahu, di sini, di antara mereka, di antara saudara-saudara yang telah menempuh jalan ini, aku mengerti, dan aku belajar. kalau setiap masalah yang dihadapi bukanlah suatu halangan, melainkan suatu batu loncatan untuk menempuh tujuan yang diinginkan.

tak ada yang perlu dipersalahkan ketika ada sesuatu yang salah,

tak ada lagi putus asa setelah kegagalan, karena mereka mengajariku bahwa kegagalan bukanlah suatu hal yang mesti ditakuti.

dan perlahan sudut pandangku tentang segala hal mulai berubah, ayah, tak lagi fokus pada hasil, proseslah yang menjadi fokus utama.

bukankah bila proses yang baik tentu akan menghasilkan yang baik pula???

bukankah Allah melihat dari proses yang kita lakukan.????

dan akhirnya, dengan semua itu, mulai tertanam sedikit demi sedikit dalam diri ini, bahwa tak ada sesuatu yang datang dengan mudahnya tanpa adanya kerja keras.

dan bukankah itu yang sering ayah ajarkan padaku???

dulu memang aku tak terlalu peduli, tapi sekarang aku tahu ayah, aku tahu, dan aku akan berusaha untuk menjadi orang yang ulet dan pekerja keras.

Ayah, tentu ayah tahu, pacaran sudah menjadi hal yang biasa bagi ananda. dan ayah juga tahu, siapa dan apa saja alasan aku memilih seorang wanita untuk menjadi pacarku. karena memang aku selalu bercerita pada ayah, dan aku senang, ayah selalu mendengarkan, walau kadang engkau tertawa mendengar cerita-ceritaku tentang kisah percintaanku.

tapi tahukah ayah???

saat diri ini beranjak dewasa, saat diri ini mulai bisa berpikir lebih maju, lebih kritis, ketika hati ini kosong, hati ini sepi, hati ini galau, belaian kasih sayang dari orang yang terkasih ternyata tak bisa menyembuhkannya, tak bisa lagi hanya dengan telepon atau sms-an dengan orang yang terkasih hati ini bisa pulih kembali.

aku merasa kosong ayah, aku merasa kosong…

hati ini membutuhkan kasih sayang dari kekasih yang sejati, yang menerima aku apa adanya, yang hanya dengan mengingat saja sudah membuat hati ini tenang, apalagi dekat.

hati ini meminta lebih…

dan  yang mengenalkanku ayah, pada Dzat yang Maha Pengasih, pada Dzat yang kasih-Nya menyeluruh ke segala makhluk.

mereka mengenalkan kembali aku dengan Rabb-ku, ayah..

dengan Rabb yang harusnya menjadi tempat aku menggantungkan hatiku,

dan memang,

hanya dengan mengingat saja, hati ini telah tenang, tak ada kegundahan lagi. sekarang, aku sudah memutuskan ayah, memutuskan bahwa kepada-Nya lah akan selalu kutautkan hatiku. karena aku yakin, Dia takkan membuatku kecewa, takkan membuatku galau, yang ada adalah keinginan untuk terus dekat, keinginan untuk terus mengingat-Nya.

dan sedikit demi sediki, diri ini pun mulai mencintai dan mengerjakan apa saja yang Dia cintai. serta mulai membenci dan menjauhi apa saja yang Dia benci.

bukankah itu yang dilakukan oleh seorang kekasih, ayah????-mengerjakan apa yang kekasihnya cintai & menjauhi apa yang kekasihnya benci.

bukankah itu yang selalu engkau ajarkan kepada ananda semenjak kecil ayah, untuk selalu mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya???

dulu, aku sewenang-wenang ayah, meremehkan apa yang engkau ajarkan ini. tapi sekarang, sungguh ayah, sungguh, aku ingin berubah. akan kubingkai dan kupajang selalu semua yang engkau ajarkan di dalam benakku.

ayah mungkin ingat, pertengkaran hebat ananda dengan mama, pertengkaran yang sampai membuat mama menangis. alasannya simpel, mama cuma mengomentari tingkah lakuku, dan aku naik pitam karena hal itu. aku sangat menyesal bila ingat akan hari itu, aku sangat menyesal betapa buruknya akhlakku saat itu.

dan apakah ayah tahu,?

di sini mereka mengenalkanku pada indahnya akhlak yang dimiliki oleh manusia yang paling dicintai Rabb ku, manusia yang sama-sama mereka rindukan untuk bertemu, dan kini aku pun merindukan beliau.

mereka mengajarkanku ayah, pada sunnah-sunnah nya, sehingga hari-hariku kini terasa lebih hidup, tak lagi terasa kosong.

makan tak boleh berdiri, menjaga pandangan, menjaga lisan, dan lain-lain yang memang sudah aku ketahui dari dulu, dari buku-buku yang ada di kamarmu ayah, dan hanya sebagai pengetahuan saja, tak pernah aku laksanakan.

ahh.. bila ingat buku-buku itu, aku jadi ingat lelucon yang tak sengaja aku ucapkan saat kita berkumpul bersama,

saat si adik berkata, “kok gak ada makanan?”

dengan santainya aku menimpali, “tuh buku-buku ayah di kolak aja”

jika kuingat hal itu, aku tak bisa memprediksi apa yang ada benakmu saat itu, tapi yang jelas, itu semua bukti ketidakpedulianku.

*bersambung, Insya Alloh

Sabtu, 17 April 2010

teruntukmu masa laluku

tak tahu harus dimulai dari mana..

aku hanya ingin melakukan pengakuan, tak lebih, tak kurang..

tak begitu berharap pada respon positifmu lagi,

tak peduli kamu mau menganggap aku apa, atau orang lain mungkin akan menjudge aku bajingan, lagi..

terserah…

aku sudah tak mau peduli lagi…

titik..

hai masa laluku,

apa kabar dirimu???

masihkah ceritamu penuh kegembiraan..???

ataukah teman-temanmu masih selalu mendengarkan ceritamu, seperti yang biasa aku lakukan dulu???

ataukah kau tak punya kawan tuk bercerita???

hai masa laluku,

bagaimana kabar orang yang kau kasihi saat ini???

apakah dia sama seperti ku dulu, menunggu dirimu dengan resah saat kau tak juga pulang dari bioskop dengan teman-temanmu???

apakah dia sama seperti diriku dulu, bernyanyi di depan kost mu, menanti dirimu memaafkanku??

atau

manjakah dia???

sama seperti diriku, yang tak biasa duduk sendiri dalam bis di sabtu sore dalam perjalanan pulang ke rumah.

sama seperti diriku, yang tak biasa makan malam sendiri, tanpa ditemani oleh obrolan darimu.

atau,

apakah dia hobby membaca dan menulis????

sama seperti diriku, yang selalu kau suruh tuk membaca novel-novel teenlit, dan menceritakannya kembali kepadamu, karena kau agak-malas-membaca.

sama seperti diriku, yang rajin menulis tentangmu, dalam jurnal harianku, tentang hal-hal yang indah, hal-hal yang aku takutkan, hal-hal yang begitu merindukan tentang kita,

atau mungkin,

apakah dia pintar fisika????

sehingga bisa kau mintai tolong untuk mengerjakan tugas-tugas fisikamu.

hai masa laluku,

apakah dia selalu mendengarkan ceritamu???

mendengarkan seluruh hal yang kau alami hari ini, semua hal yang kau senangi, semua hal yang kau benci, semua hal yang begitu mendetail, karena ku tahu, dunia dari sudut pandangmu adalah hal yang begitu rinci..tak ada yang lepas dari pengamatanmu..

atau apakah dia mengerti isyarat-isyaratmu???

jam kembar, insting kewanitaanmu, puisi-puisimu, kata-kata mutiaramu..apakah dia mengerti???

bagaimana dengan dia, hai masa laluku,

apakah dia lebih banyak mendengarkan daripada berbicara???seperti yang aku lakukan.

atau apakah dia jadi orang yang pertama tahu, saat kau kehilangan handphone mu???

atau apakah dia marah, ketika ada orang lain yang menempati tempat kita berdua???

atau apakah dia merasa kesakitan saat kau cubit???

atau apakah dia memiliki selera humor yang sama denganku, yang kadang membuat kita tertawa terbahak-bahak pada soal-soal kecil yang kita temui, seperti misalnya sepatu-sepatu lapuk di depan kosanmu dulu.???

atau apakah dia akan meminjamkan switernya, saat hujan, saat kau hanya memakai seragam sekolahmu, sedang kita kehujanan saat itu.??

atau apakah dia akan tertawa bersamamu, saat kalian berdua berlari di antara tetes hujan, seperti yang kita lakukan dulu..???

apakah dia……

ahhh..sudahlah…

terlalu banyak, aku sampai muak,

sungguh muak….

aku terlalu terpaku pada masa-masa yang aku habiskan bersamamu…

berapa lama??? 1 tahun??? 2 tahun??? 3 tahun???? aku sudah lupa..

aku seorang pecundang, masa laluku, aku seorang pecundang..

sudah hampir dua tahun berlalu, aku masih terbangun di pagi hari, berpikir, bahwa hari itu aku akan meminta maaf padamu, kau memaafkanku, dan akhirnya kita bisa kembali bersama…

bodohnya aku…

bodohnya…

tak sadarkah aku bahwa waktu itu aku telah benar-benar menyakitimu???

telah benar-benar membuatmu menangis, hingga tak bisa memaafkan aku lagi.

waktu ku tahu kau mencintai sahabatku dulu, aku masih bisa memaafkanmu, tapi kenapa saat itu kau tak bisa.????

tapi ya sudahlah…

tak sadarkah aku, bahwa dia orang yang tepat, datang di waktu yang tepat, di tempat yang tepat pula,

menghiburmu..

menghapus air matamu, mungkin.

dan akhirnya kau berhasil melupakan aku yang telah melukaimu, bahkan melupakan cerita-cerita kita dulu.

tak sadarkah aku, dia adalah orang yang tepat, yang mengantarmu ke tempat yang kau inginkan, mengajakmu berjalan-jalan, berkeliling, mengenalkanmu pada teman-temannya…

aku tak bisa seperti itu, karena dulu, aku belum bisa mengajakmu berkeliling, belum bisa mengajakmu berjalan-jalan, sesuatu hal yang sempat kau tertawakan, tak bisa mengendarai motor…

aku tak bisa seperti itu, mengenalkanmu pada teman-temanku.. kau tahu, aku hanya tak biasa, mencampuradukkan urusan pertemanan dengan urusan pribadi, lagi pula, saat itu, duniaku adalah dirimu…

tak sadarkah aku, dia mungkin membawamu ke keluarganya, atau mungkin dia begitu berani, datang ke keluargamu, membuktikan bahwa dia serius padamu, tidak seperti aku..

tak sadarkah aku, kawan-kawanku pun menyetujui kalian berdua, demi kebaikanmu, kata mereka, mengingat aku hanya bisa melukaimu…

dia, begitu cocok bersanding denganmu…

dan sepertinya kau pun bahagia dengannya…

syukurlah…

syukurlah…

lalu bagaimana dengan diriku..????

kau meminta maaf padaku, karena telah membuatku menyimpan perasaan seperti ini,

tapi yakinlah,

aku tak apa-apa…

sungguh tak apa-apa…

aku hanya berpikir, sudah saatnya aku melangkah, saatnya aku berjalan, sudah hampir dua tahun, dan aku baru memutuskan untuk melangkah kembali..

kau bilang, itu hanya masalah waktu..

ya, hanya masalah waktu, mungkin belum cukup waktu yang kuperlukan untuk tak memikirkanmu lagi..

tak membuatmu terus berada di lamunanku, di mimpi-mimpiku..

aku hanya berpikir, saatnya aku menatap ke depan, mulai fokus pada masa depanku, mulai peduli pada keluargaku, mulai menata ulang hubunganku dengan Yang Maha Pengasih, dan sedikit-demi-sedikit mulai melupakanmu…

err..bukan..bukan itu maksudku, aku tak berniat melupakanmu, masa laluku..

kau sangat berarti bagiku, aku hanya akan meletakkan bayangmu di kaca spionku, biar saat aku mengalami saat-saat terbaik atau terburuk dalam hidupku nanti, aku bisa melihat dirimu di sana, melihat kita dulu, dan kembali menatap ke depan, melanjutkan perjalananku..

bukankah aku yang sekarang ada saat ini karena masa lalu,??

aku hanya meminta doamu, masa laluku, perjalanan ini masih panjang, aku tak tahu kapan ini akan berakhir, tapi yang aku tahu pasti, bila aku terus berjalan dan berusaha, aku akan sampai di tempat yang paling membahagiakan, tempat yang ingin dituju semua orang, surga-Nya…

aku mendoakanmu, masa laluku,

semoga di tiap tidurmu, kau selalu bermimpi indah..

semoga selalu ada kehangatan mentari pagi di jendela kamarmu..

semoga selalu ada kebahagiaan di hari-harimu, dan aku yakin itu akan selalu ada..

terima kasih masa laluku,

ini pengakuanku,

semoga kau berkenan, bila aku me-remove kau dari friendlist ku, dan menghapus nomormu dari phonebook ku,

tak bermaksud jahat, hanya ingin mengurangi celah yang bisa aku manfaatkan untuk menghubungimu lagi..

sudah malam,

aku mengantuk sekali,

aku akan tidur, dan aku yakin esok hari akan begitu cerah..

.

.

.

amin.

 

*umam, pengakuan di bulan april..

  1_976040568l