Kamis, 05 Juni 2008

It’s All about my future....

Jangan pernah menangis,
Karena itu tanda kekalahan raga terhadap hati,
Dan hanya menunjukkan bahwa kita tak bisa mengendalikan hati.
Tapi menangislah,
Biarkan raga mu kalah,
Biarkan raga mu merasa hancur,
Karena akan ada kekuatan baru untuk memulai
Karena tangisan itu membuktikan,
Masih ada hati dalam rongga dada mu......



****days before the big days.****


Hari-hari menjelang Un tuh bikin takut sendiri, aku pikir, Cuma aku yang ngerasa kayak gitu. Ternyata yang aku lihat bukan lah yang sebenarnya terjadi. Malah bertolak belakang.

Seperti biasa kelas ku melakukan kegiatan rutin tiap kali tak ada guru, maen futsal atopun maen poker di kelas, errrrr, ok..... ng net bareng alias cuci mata dalam kelas pun jalan terus.

Ya.....kelas ku tetep have fun aja tuh, malah sempet dapat gelar baru, PIONIR KEBERENGSEKAN,yang diutarakan langsung oleh P.M 1 (anak-anak smansa pandeglang pasti tau siapa beliau). Tak mengherankan, jika melihat tingkah laku ke 46 ekor monyet-monyet khayangan yang makin hari makin bikin bulu udel guru-guru bergidik. Maen futsal pas jam pelajaran lah, maen poker dalam kelas lah, tugas molor dikumpulin lah.

Tapi, di balik semua itu, tampak kegalauan dalam tiap tingkah laku mereka, tak bisa dipungkiri, 2 tahun sekelas dengan mereka membuatku mengerti tiap-tiap anak di kelas ku, meski tidak secara spesifik setiap anak aku tau. Hingga suatu ketika instingku benar.

Saat itu seluruh anak kelas IPA berkumpul di kelas IA1, merencanakan strategi buat UN, tak menyangka bisa sekompak itu. Seluruh siswa malah datang, termasuk ke 46 monyet, hadir semua mereka, suatu keajaiban, mengingat mereka tuh cuek banget ma hal-hal yang seperti begitu.

Hingga akhirnya sebuah rencana tersusun dengan begitu apik (rencana nya takkan kujelaskan di sini). Dan yang membuatku terkagum-kagum, adalah bahwa mereka juga merencanakan acara pengajin bersama tuk kelancaran UN tersebut.

Two thumbs up for you guys......

Malam itu, sangat membuat terharu....

Tapi tak membuatku menangis. Aku menahannya
Karena aku tauk, bila sekalinya aku mengeluarkan air mata, akan susah tuk menghentikan nya, seperti yang terjadi waktu acara muhasabah Ramadhan kemaren.

Esok harinya, sekolah juga mengadakan acara serupa, tapi dengan seluruh warga sekolah, tadinya pengen ikut nangis waktu si TB membacakan kalimat-kalimat menyayat hati, tapi di piker-pikir, malu banget kalo nangis waktu itu, malu banget, semu personel sekolah hadir,di lapangan lagi. Aku pikir , ok auks elamat dari perbuatan yang memalukan ku, tapi tenyata aku salah, acara gak berhenti samapai di situ.
Setelah doa bersama, sementara anak-anak kelas sepuluh dan sebelas balik ke kelas, kami ternyata di suruh ikut ke Mushola, di sana sudah ada seorang tentor yang akan membimbing kami, dugaan ku benar, Muhasabah.

aku tak bisa memungkiri, bahwa saat itu aku menagis, bahkan saat ini juga aku meneteskan air mata. ShiT,,,,it’s suck !!!!!

aku sngat terharu, atas apa yang tentor itu utarakan.
Tentang dosa-dosa kami,
Tentang kebaikan-kebaikan yang sedikit dibanding kejahatan-kejahatan yang kami buat.
Awal-awal aku tak menangis, tapi ketika sampai pada saat menceritakan orang tua.
Bagaimana orang tua kita kelelahan mencari nafkah.
Bagaimana orang tua kita mengusahakan agar anak-anak nya tetap tersenyum.
Bagaimana peluh ayah kita yang bercucuran,
Bagaimana air mata ibu kita terurai,
Bagaimana mereka selalu berusaha dengan harapan bahwa anak-anak nya kan bahagia kelak.
Dan kalian tau apa yang mengiringi semua itu???? Implora-instrument seperti yang aku dengarkan saat ini. Alunan na menusuk sekaligus mengingatkan ku pada acara itu.
Tak selesai sampai di situ, sang tentor juga menyuruh kami berpelukan dengan teman di samping, yang ada di samping ku tentu saja si abang, inilah yang menambah ku histeris, aku benar-benar menangis di pelukan si abang.
Beberapa detik aku menangis di pelukan nya, membuat basah seluruh pundak nya.
Saat itu aku merasa betapa rapuhnya aku,
betapa fragile nya aku,
betapa beban ini begitu berat,
betapa Allah sangat sayang padaku,
betapa aku sangat beruntung, betapa ...... UGHHHHHHHHHHH
tak bisa ku utarakan lagi.

Dan di akhir acara, di akhir tangisku tentunya, dada ini terasa ringan, seperti mendapat ATP baru tuk memulai dan menghadapi semua halangan yang ada. Seperti mendapat sengatan supaya tidak berhenti berjuang dan berdoa. Seperti diberi peringatan, supaya kita tidak mendahului takdir. Tidak mendahului takdir yang Allah siapkan untuk kita, untuk jalan kita, dan tentu saja untuk masa depan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

minta komentar na atuh....