Kamis, 14 Agustus 2008

days without her

Puzzle

Potongan puzzle berserakan di hadapanku,
seperti ranting kering berjatuhan saat kemarau.
Seperti biasa ku rangkai satu demi satu.
Mula-mula ku ambil satu dari senyummu,
lalu candamu,
dari tawamu,
dari cemburumu,
dari tangismu,
dari kasih sayang dan cintamu padaku.
Tapi kali ini ku ambil satu dari cintamu padanya
Dan satu lagi dari cintamu pada mereka.
Ah…..lengkap sudah rangkaian ini menjadi sepotong puzzle baru tentang hidup

Bandar lampung, 7 agustus 2008


Only

Hanya debu,
Hanya bisu,
Hanya lagu,
Hanya aku.
Hanya rindu.

Bandar lampung, 8 agustus 2008


Tanpamu

Dan kau tak pernah tahu
Di balik semua rinduku
Ada sesuatu yang tak pernah aku mengerti
Walaupun aku bertanya pada bisunya langit,
pada terjalnya karang
pada riaknya air
pada kepaknya sayap.

Dan kau tak pernah tahu
Di balik semua rinduku
Ada suatu ketenangan
Yang tak bisa aku gapai, tanpamu

Bandar lampung, 9 agustus 2008




Dari sang kapal kepada sang samudera

“Bukannya aku tak suka lagi berada dalam pelukanmu,
tapi dirimu tiada terbatas, sementara aku tidaklah abadi”

Bandar lampung, 10 agustus 2008


Untuk pertama kali ku sadar, kau cintaku

”Ku takkan bisa melakukan semua
tanpa dirimu di sisiku,
kau yang menggenggam hatiku.
Takkan sanggup melewati waktu
Tanpamu.
Karena hanya dirimu yang mengerti.”
-Dygta/Hanya dirimu

Bandar lampung, 11 agustus 2008


Mungkinkah…?

Waktu tak pernah ajarkan kita apa-apa,
selain kemampuan tuk pahami derita
Tapi waktu yang besarkan kita
di tengah upaya jelang masa dewasa.
Lalu waktu jua yang pisahkan kita,
hingga terpaksa kita berhenti mencinta.
Mungkinkah waktu berpihak pada kita
lalu izinkan kita sekedar tuk bersua?

Bandar lampung, 12 agustus 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

minta komentar na atuh....